PERJALANAN MERPATI
Aku ini mahasiswa,
sebut saja aku merpati. Yah seperti merpati, aku diam-diam jinak, tapi jangan
salah, aku tidak seperti marpati bodoh yang sok suci. Ini adalah hari pertamaku
mengijakkan kakiku di universitas. Kalimat pertama yang aku ucapkan adalah “ oh
my god “ ini kampus atau tempat peternakan sih ? Bangunannya tua, catnya lusuh,
sama sekali tidak bagaikan ruang kelas. Tempat itu masi menggunakan ubin tahun
lama saat masih jaman belanda. Di dalam kelas kami ada sebanyak 60 orang. Dan
yang lebih memprihatikan no AC. Aku bergumam dalam hati “aku salah tempat”.
Tempat itu benar-benar tidak seperti yang aku bayangkan. Baru hari pertama ja
masuk kampus aku sudah hampir grazy.
Next day aku mencoba untuk beradaptasi dengan keadaan di kampusku.
tapi semua orang yang duduk disampingku beda suku dengan aku. Aku sungguh-sungguh jengkel
saat itu. Selama 3 bulan berada didalam kampus, aku semakin galau tingkat
tinggi. I don’t like this place !!! Setiap hari aku berangkat dan pulang kampus
hanya aku jadikan sebagai formalitas. There’s nothing left in my braind.
Tertawa poen hanya sebagai lambang. Memang tidak terlihat aneh , tapi
kenyataanya begitu aneh bagiku. I’so very-very bored. This not that what i want
!!!!!!
Semaki lama berada disana, aku jadi semakin tidak fokus.
Hingga tiba saatnya ujian, aku juga tetap tidak fokus dan aku pasrah kepada
kegagalan. Tetapi merpati tetap masih ada dalam keberuntungan, IP aku tetap
berada di stadart rata-rata. Utuk pertama kali dalam sejarah hidup aku tidak menunjukkan
nilai aku kehadapan orangtua aku. Kini aku sudah masuk di smester 2. Saat tu
aku bertemu dengan 3 orang merpati yang sama anehnya dengan aku. Tapi mereka sedikit
lebih beruntung dari aku tapi bukan berarti lebih baek dari aku. Kini ada 4
merpati yang membenci tempat itu. Ok i will take yours my friend. But don’t
test me ok !!!!! kebencian ini semakin menjadi, dosen terlihat angry monster
“trouble” !!!!
Semangat belajar tetap tidak kembali, bahkan cerita ini lebih
parah dari bang toyip. Aku memutuskan untuk stop semua ini, aku akan
menjelaskannya pada ibu. Saat aku kembali kekampung aku bertemu dengan kedua
orangtua aku. Sesampai dirumah aku melihat ibu sedang bercerita dengan seorang
tamu yang datang kerumah kami. Dengan bangganya orangtua aku menceritakan
tentang tempat kuliahku kepada orang itu. Saat bercererita wajah ibu kelihatan
begitu bersinar dan penuh dengan kebahagian karena aku kuliah di farmasi. Ayah dan ibuku juga semakin giat untuk
bekerja, dan apapun mereka lakukan asal halal. Mereka tidak pernak malu bekerja
dan tak pernah kenal lelah demi keberhasilanku. Astaga!!! Aku begitu malu
dengan kelakuanku. Seolah-olah cecak poen di dinding mengejek aku sambil
berkata: Apa yang sudah kamu lakukan ???? lihatlah mereka sudah tua, dan mereka
harus banting tulang untuk kamu. Apakah kau akan menyia-nyiakan waktu dan
kesempatan yang sudah mereka beri padamu ????? apakah kamu tidak kasian pada
mereka ?????
Saat kembali kemedan, disudut kamar kostku aku tertunduk
lemah, memori dikepalaku terputar kempali. Terlintaslah wajah kedua orang tua
aku. Saat q berprestasi mereka tertawa padaku. Begitu juga saat aku gagal, aku
menangis di hadapan mereka tapi mereka tetap tersenyum pada aku. It’s okay dear
!!! everything will be ok !!! one day !!! kata-kata itu, ea kata-kata yang
diucapkan oleh Ayah “one day”. I will replace the star.
Ketika memasuki semester 3, aku berpikir aku harus lebih
baik. Semua kelakuanku di masa lalu harus aku ubah dan harus kubenahi. Buluku
yang kusut mulai kusisir. Aku begabung dengan merpati-merpati lainnya. Tapi
keadaan tidak lebih baek, tapi tidak juga seburuk sebelumnya. Aku dan 3 merpati
lainnya, berusaha untuk terbang, agar terlihat lebih cantik. Tapi merak terlalu
cantik untuk di saingi, merak yang awalnya memang cantik. Sehingga merpati tidak
diangap apa-apa. Lelah i’m tired mom !!! i miss my self, miss my old friend. I need u all, i need u
god.pleace, pleace, pleace bless us. Aku dan 3 merpati yang tak sanggup terbang
semakin sibuk dengan hari-hari yang kami jalani. Aku sudah berusaha untuk
mencintai tapi aku masih gagal. Q takut, lelah, dan benci pada para merak itu.
Melihat 3 merpati lainnya aku harus tetap berusaha tegar supaya aku tidak down.
Aku menemukan sebuah lentera tapi terus mengabaikannya
sehingga aku berjalan menuju sebuah lorong gealap dan semakin gelap sehingga
aku tiba-tiba takut berada disana. Aku menangis tanpa suara, tapi kakiku
menginjak sesuatu dengan daya yng sudah limit. Jika aku terus berjalan dengan
bantuan api maka aku akan kegelapan hingga menemukan ujung lorong. Sementara
batang korek hanya ada satu. Apakah yang harus aku lakukan ????? Aku tertunduk
lama sekali, keringat sudah membasahi tubuhku. Dadaku terasa sesak karena
gelap. Tiba-tiba aku teringat pada seseorang. Seseorang yang selalu Setia. Seseorang
yang sudah lama kuabaikan. Dan aku berteriak memanggil namaya, “jesus!!!!!!”
aku menempatkan aku disini, tunjukkan aku jalan pulang!!! Tiba-tiba aku
teringat lentera itu yang ku tinggalkan tidak jauh. Perlahan-lahan aku berjalan
menuju lentera itu. Lentera yang cukup minyak untuk membawa aku kembali ke
ujung lorong dan dengan satu korek api itu juga.
Sesampainya diujung lorong aku melihat merak itu sudah ada
didepanku. Dia tersenyum padaku. Tapi aku mengabaikan dia, karena aku iri pada
dia, karena dia bukan bagian dari aku. Tapi dia tetap tersenyum manis padaku
walaupun aku menatapnya dengan penuh kebencian. Dan tanpa sadar aku ikut
tersenyum pada dia. Dan kali ini senyumku tulus, bukan lagi penuh dengan
keanehan. Silau dari merak itu tiba-tiba membangunkan aku dari mimpi panjangku.
Aku termenung sejenak mengingat kembali memori-memori kehidupan. Aku terlalu
sibuk dengan apa yang aku inginkan. Padahal aku sadar kalu Tuhan selalu
menyediakan apa yang aku butuhkan. Dia
tidak akan pernah meninggalkan aku. Dan Dia tau apa yang aku butuhkan.
Sehingga aku tahu kalu ternyata banyak merak yang siap mendandani aku tapi aku
mengabaikannya karena keangkuhan, kesombongan, dan juga perasaan minder aku.
Pagi ini merak yang tidak sombong itu datang menyapa aku aku. Banyak talenta
yang dia miliki tapi dia tidak terlalu menonjol, tapi dia tampil menjadi yang
terbaik di momentnya. Sehingga aku memutuskan untuk belajar darinya. Belajar
menerima kenyataan, belajar menikmati setiap detik dalam hidup dan tetap pada
satu alasan “one day”. The sun will be shinning, more than past.
Create by :Evianikha Tarigan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar