Selasa, 01 Oktober 2013

Pengaruh Bentuk Rasemik Suatu Obat Terhadap Efeknya Dalam Tubuh




Pengaruh Bentuk Rasemik Suatu Obat Terhadap Efeknya Dalam Tubuh

Konsentrasi obat dalam plasma tidak selalu berkolerasi terhadap efeknya dalam tubuh manusia. Ada beberapapa obat yang walaupun kadarny dalam plasma tinggi namun tidak disertai peningkatan efek obat dalam tubuh. Hal ini dapat dipengaruhi salah satunya karena bentuk campuran rasemiknya.
Melihat fakta di atas stereokimia (struktur ruang) suatu senyawa organik mutlak harus diperhitungkan dalam reaksi-reaksi biologis makhluk hidup. Sayangnya sulit sekali menghasilkan suatu enantiomer atau diastereoisomer murni. Bahkan 90 persen obat-obat sintetik yang mengandung senyawa kiral masih dipasarkan dalam kondisi rasemik sampai awal 1990-an.
Campuran rasemik artinya suatu campuran yang mengandung sepasang enantiomer dalam jumlah yang sama. Sepasang enentiomer itu adalah enantiomer R dan enentiomer S. Prinsip dasar isomer optik yaitu:
1. Sepasang enantiomer memiliki sifat-sifat fisika (titik didih, kelarutan, dan lain-lain) yang sama tetapi berbeda dalam arah rotasi polarimeter dan interaksi dengan zat kiral lainnya.
2. Sepasang diastereoisomer memiliki sifat-sifat fisika dan sudut rotasi polarimeter yang berbeda satu sama lain. Bahkan sering dalam bereaksi mengambil cara yang berlainan. Artinya kita bisa memisahkan campuran dua diastereoisomer dengan cara-cara fisika (destilasi, kristalisasi, dan lain-lain). Akan tetapi tidak bisa memisahkan campuran dua enantiomer dengan cara-cara fisika, karena sepasang enantiomer memiliki properti fisika yang sama. Kesimpulannya, kita dapat dengan mudah memisahkan campuran dua diastereoisomer, tapi akan kesulitan memisahkan campuran dua enantiomer.
Sebagian masyarakat mungkin kurang memperhatikan sifat optis suatu senyawa organik, padahal reaksi kimia dalam sistem biologis makhluk hidup sangat stereospesifik. Artinya suatu stereoisomer akan menjalani reaksi yang berbeda dengan stereoisomer pasangannya dalam sistem biologis makhluk hidup. Bahkan terkadang suatu stereoisomer akan menghasilkan produk yang berbeda dengan stereoisomer pasangannya dalam sistem biologis makhluk hidup.
Beberapa obat yang beredar dalam bentuk campuran rasemik Contohnya adalah:
1. ObatThalidomide
Obat ini dipasarkan di Eropa sekira tahun 1959-1962 sebagai obat penenang. Obat ini memiliki dua enantiomer, di mana enantiomer yang berguna sebagai obat penenang adalah (R)-Thalidomide. Tetapi ibu hamil yang mengonsumsi enantiomernya yaitu (S)-Thalidomide justru mengalami masalah dengan pertumbuhan anggota tubuh janinnya. Sedikitnya terjadi 2000 kasus kelahiran bayi cacat pada tahun 1960-an. Hal ini merupakan tragedi besar yang tidak dapat dilupakan dalam sejarah obat-obat kiral.
2. Nikotin
(-)Nikotin dilaporkan lebih beracun dan berbahaya dibandingkan dengan (+)Nikotin. Tanda “+” menyatakan arah rotasi polarimeter sesuai arah jarum jam, sedangkan tanda “-” menyatakan arah rotasi polarimeter berlawanan arah jarum jam.
3. Tiroksin
Tiroksin adalah hormon yang dihasilkan kelenjar tiroid. (-) Tiroksin meregulasi metabolisme tubuh, sedangkan (+) Tiroksin tidak menghasilkan efek regulasi apa pun.
4. Epinefrin
Epinefrin rasemik merupakan campuran 1:1 d-isomer dan l-isomer epinefrin. Mekanisme aksi epinefrin adalah pada reseptor a adrenergik; terbukti menyebabkan vasokonstriksi dan mengurangi udem. Pengurangan udem mukosa larings akan meningkatkan diameter jalan nafas sehingga stridor inspirasi dan retraksi akan berkurang.
L-Epinephrine itu sedikitnya sama efektif seperti epinephrine racemic dalam perawatan laryngotracheitis dan tidak membawa resiko / efek samping tambahan. L-Epinephrine juga lebih tersedia di seluruh dunia, lebih murah, dan dapat direkomendasikan untuk mengobati laryngotracheitis.
Aktivitas biologi dari dextro(+) enansiomer adrenergic agonists (epinefrin) diperkirakan lebih rendah dibandingkan dengan levo(—) enantiomernya.
Epinefrin rasemik baik untuk mengobati croup derajat sedang dan berat. Penderita yang telah diterapi dengan epinefrin rasemik aman untuk dipulangkan jika dalam 3 jam, tidak terdapat stridor saat istirahat, udara yang masuk normal, kesadaran baik atau jika skor croup <2.
5. Tramadol
Tramadol HCl adalah analgesik kuat yang bekerja pada reseptor opiat. Tramadol mengikat secara stereospesifik pada reseptor di sistem saraf pusat sehingga menghentikan sensasi nyeri dan respon terhadap nyeri.
Tramadol merupakan campuran rasemik 1:1 dari 2 enantiomer, Enantiomer (+) tramadol and Enantiomer (-) nya memiliki potensi berbeda terhadap reseptor opioid dan sisi monoamine uptake (Raffa et al., 1993). Enantiomer ( ) tramadol secara cepat termetabolit menjadi mono-O-desmethyltramadol (M1 metabolite ) yang juga berikatan dengan reseptor opioid (Raffa et al., 1995; Gibson, 1996).
• Enantiomer ( + ) kira-kira empat kali lebih kuat dibanding kemampuan enantiomer ( – ) dalam hal afinitas terhadap reseptor u-opioid dan pengambilan kembali ( reuptake ) 5-HT.
• Enantiomer (-) menghambat reuptake norepinephrine dengan menstimulasi reseptor alpha(2)-adrenergic (Goeringer et al., 1997).
Aksi ini nampak untuk menghasilkan satu efek analgesik sinergis, dengan enantiomer (+) dari tramadol yang memperlihatkan aktivitas analgesik 10 fold lebih tinggi dibanding enantiomer (-)nya. Enantiomer (-) menghambat reuptake norepinephrine dengan menstimulasi reseptor alpha(2)-adrenergic (Goeringer et al., 1997). Enantiomer (-) tramadol ternyata kira-kira 5-kali lebih kuat untuk menghambat noradrenaline daripada asupan serotonin (IC50 1,6 µmol/L vs 8,6 µmol/L) dan sebaliknya lah yang terjadi untuk Enantiomer (+)nya. Kedua enantiomer diberikan pada aksi analgesik tramadol.


Bentuk molekul obat harus seperti mengizinkan mengikat ke situs reseptornya. Secara optimal, yang bentuk obat yang bersifat komplementer dengan yang situs reseptor dengan cara yang sama bahwa kunci adalah melengkapi kunci. Selain itu, fenomena kiralitas (stereoisomerism) begitu umum di biologi bahwa lebih dari setengah dari semua obat yang berguna adalah molekul kiral, yaitu, mereka ada sebagai pasangan enantiomer.

Obat dengan dua pusat asimetris memiliki empat diastereomers, misalnya, efedrin, suatu obat simpatomimetik. Pada sebagian besar kasus, salah satu enantiomer akan jauh lebih kuat dari enantiomer citra cermin, mencerminkan lebih cocok ke molekul reseptor. Untuk Contohnya, enantiomer (S) (+) dari methacholine, obat parasimpatomimetik, adalah lebih dari 250 kali lebih kuat daripada enantiomer (R) (-). Jika salah satu situs reseptor membayangkan menjadi seperti sebuah sarung tangan ke molekul obat yang harus sesuai untuk membawa tentang efek, jelas mengapa "kiri berorientasi" obat akan lebih efektif dalam mengikat ke reseptor kiri daripada akan "yang berorientasi enantiomer kanan".
The enantiomer lebih aktif pada satu jenis situs reseptor mungkin tidak lebih aktif pada jenis lain, misalnya, jenis reseptor yang mungkin bertanggung jawab atas beberapa efek yang tidak diinginkan. Misalnya, carvedilol, obat yang berinteraksi dengan adrenoceptors, memiliki pusat kiral tunggal dan dengan demikian dua enantiomer (Tabel 1-1). Salah satu enantiomer, isomer (S) (-), adalah kuat-reseptor blocker. Isomer (R) (+) adalah 100-kali lipat lebih lemah pada reseptor. Namun, isomer sekitar equipotent sebagai-reseptor blocker. Ketamin adalah anestesi intravena. The enantiomer (+) adalah lebih kuat dan anestesi kurang beracun dibandingkan dengan enantiomer (-). Sayangnya, obat ini masih digunakan sebagai campuran rasemik.



Catatan: Kd adalah konsentrasi untuk saturasi 50% dari reseptor dan proporsional berbanding terbalik dengan afinitas obat untuk reseptor.
1Data dari Ruffolo RR et al: The farmakologi carvedilol. Eur J Pharmacol 1990; 38: S82.



Akhirnya, karena enzim biasanya stereoselektif, satu enantiomer obat sering kali lebih rentan dari yang lain untuk obat-enzim metabolisme. Akibatnya, durasi tindakan satu enantiomer mungkin sangat berbeda dari yang lain.
Sayangnya, kebanyakan studi tentang kemanjuran klinis dan eliminasi obat pada manusia telah dilakukan dengan campuran obat rasemik daripada dengan enantiomer terpisah.

Saat ini, hanya sekitar 45% obat yang digunakan secara klinis kiral dipasarkan sebagai sisa-isomer aktif tersedia hanya sebagai campuran rasemik. Akibatnya, banyak pasien yang menerima dosis obat yang 50% atau lebih adalah tidak aktif atau aktif beracun. Namun, ada peningkatan kepentingan-baik pada ilmiah dan
yang peraturan tingkat-dalam membuat lebih obat kiral tersedia sebagai enantiomer yang aktif mereka

HIPNOTIKA – SEDATIVE




HIPNOTIKA – SEDATIVE

Hipnotika ; atau obat tidur adalah zat yang umumnya diberikan pada malam hari dengan tujuan untuk mempertinggi keinginan faal dan normal untuk tidur, mempermudah atau menyebabkan tidur.
Jika Hipnotika diberikan dalam dosis yang lebih rendah dari dosis terapinya, maka obat tersebut berfungsi sebagai Sedatif (menenangkan) dan umumnya diberikan pada siang hari.
FosologiTidur :
Kebutuhan akan tidur dapat dianggap sebagai suatu perlindungan dari organisme untuk menghindarkan pengaruh yang merugikan tubuh karena kurang tidur. Pusat Tidur di otak akan mengatur fungsi fisiologi tidur ini yang sangat penting bagi kesehatan tubuh.
Pada saat tidur aktivitas syaraf parasimpatik dipertinggi dengan efek penyempitan pupil (Myosis), perlambatan pernafasan dan sirkulasi darah, serta stimulasi aktivitas saluran pencernaan (peristaltis dan sekresi getah-getah lambung-usus diperkuat).  Dengan singkatnya pada saat tidur proses pengumpulan energi dan pemulihan tenaga dari organisme diperkuat.
Stadium Tidur :
Selama satu malam pada umumnya dapat dibedakan 4 – 5 siklus tidur dan setiap siklus terdiri dari dua stadium, yaitu :

1.  TidurTenang ; yang disebut pula tidur non-REM atau Slow Wave
Sleep (SWS), atas dasar aktivitas listrik otak (E.E.G = Elektro   Encefalogran). Ciri-cirinya adalah denyut jantung, tekanan   darah dan pernafasan yang teratur, serta relaksasi otot tanpa   gerakan-gerakan otot muka atau mata. SWS ini lebih kurang   satu jam lamanya dan meliputi berturut-turut 4 fase, yang   mana fase 3 dan 4 merupakan bentuk-bentuk tidur yang   terdalam. Selanjutnya stadium ini disusul oleh stadium (2).

2.  TidurParadoksal atau tidur-REM (Rapid Eye Movement) dengan   aktivitas E.E.G yang mirip keadaan sadar dan aktif serta berciri   gerakan-gerakan mata cepat.  Gerakan jantung, tekanan darah,   dan pernafasan turun-naik, aliran darah ke otak bertambah dan   otot-otot sangat mengendor. Selama tidur REM yang semula   berlangsung 15-20 menit terjadi banyak impian, maka disebut   pula tidur mimpi.
Siklus pertama ini disusul secara bergiliran oleh fasa-fasa tidur tenang sekitar 60 menit, dan tidur-REM sekitar 20 menit.  Fase mimpi ini berangsur-angsur menjadi lebih panjang, sehinggta akhirnya pada pagi hari dapat berlangsung sampai 45 menit. Sebaliknya dalamnya dan nyenyaknya tidur pada jam-jam pertama bersifat paling lelap dan lambat – laun menjadi lebih dangkal.  Perubahan demikian nampak pula dengan melanjutnya usia, tidur menjadi lebih dangkal dan tidur mimpi menjadi lebih panjang.
Bayi yang baru lahir membutuhkan tidur 16 jam, orang dewasa membutuhkan rata-rata 8 jam , sedangkan usia lanjut (> 50 th) rata-rata cukup dengan tidur 6 jam per hari. Tidur REM pada bayi merupakan 50 % dari tidur seluruhnya dan menurun sampai 20 % pada usia 6 tahun dan selanjutnya hampir konstan untuk seumur hidup.
Bila REM dirintangi dan menjadi lebih pendek, misalnya akibat diberikan obat tidur, maka pasien mengalaminya sebagai tidur tidak nyenyak dan merasa tidak fit (segar). Hal ini akibatnya dapat menimbulkan gangguan-gangguan psikis dan mengganggu kesehatan.
Hormon pertumbuhan (Growth hormone, GH) adalah penting sekali bagi pertumbuhan tubuh dan stimulasi respon dari asam amino oleh jaringan serta sintesis protein. Ternyata sekresi GH terutama terjadi selama tidur, yaitu pada fase 4 dan 4 SWS dan selama tidur-REM.
Obattidur umumnya menekan fase 3 dan 4 SWS serta tidur-REM, sehingga sekresi GH menurun, meskipun pada penggunaan kronis supresi tidur-REM bersifat sementara, namun bila terapi dihentikan akan terjadi REM-rebound ( gangguan pola tidur ). Obat-obat golongan Benzodiazepin ternyata menekan fase 4 SWS tanpa mengganggu sekresi GH maupun tidur-REM.
INSOMNIA
Insomnia atau tidak bisa tidur dapat diakibatkan oleh banyak faktor, misalnya batuk, rasa nyeri (reumatik, encok, migrain, keseleo, dsb), sesak nafas (asma, bronchitis, dsb) dan sangat penting pula karena adanya gangguan emosi, ketegangan, kecemasan, atau depresi. Untuk mengatasinya maka yang paling utama adalah penyebab-penyebab diatas, bila masih belum teratasi baru diberikan obat tidur dengan dosis serendah mungkin. Penggunaan sebaiknya segera dihentikan setelah pasien dapat tidur secara nyenyak untuk menghindari kebiasaan dan ketagihan..
Obat yang paling layak diberikan adalah golongan Benzodiazepin, kloralhidras dan turunannya. Prometazin (Phenergan 50 mg),  adalah antihistamin dengan efek samping mengantuk seringkali efektif sebagai obat tidur.

Keberatan-keberatanpenggunaanHipnotika
1.   Kebanyakan Hipnotika memperpanjang waktu tidur, akan tetapi
meperpendek periode tidur-REM, misalnya golongan barbiturat,   selain itu zat-zat ini juga menghasilkan tidur dengan aktivitas l  istrik yang berlainan sekali dengan E.E.G. tidur normal.
2.   Setelah digunakan 2 minggu seringkali Hipnotika tidak efektif   lagi dalam hal cepatnya menidurkan si pasien, karena dengan   pesat   terjadi toleransi dan kebiasaan, seperti halnya dengan   Narkotika meskipun  tidak demikian hebat. Akibatnya ialah   bahwa diperlukan dosis yang  lebih besar untuk mencapai efek   yang sama. Hanya golongan Benzodiazepin yang tidak atau   hampir tidak kehilangan efektifitasnya setelah penggunaan   beberapa minggu.
3.   Terjadinya REM-rebound, yaitu gangguan pola tidur yang erapkali
terjadi sesudah pengobatan dihentikan, seolah-olah sebagai
kompensasi dari kekurangan selama terapi, tidur-REM
diperpanjang dengan gejala-gejala tidak enak seperti tidur
menjadi gelisah dan lebih buruk, dengan rasa takut dan tertekan,
kerapkali penuh impian khayal yang hebat. Hipnotika yang paling
sedikit bahkan tidak mempengaruhi tidur-REM adalah golongan
Benzodiazepin dan Kloralhidras.
4.    Menyebabkan ketergantungan atau ketagihan, padamana ada dua
jenis ketergantungan, yaitu :
a.  Ketergantungan fisik ; yaitu bila pengobatan dihentikan
terjadi gejala-gejala abstinensi ( withdrawal symptoms) yang
berupa gangguan fungsi tubuh, misalnya berkeringat, gemetar,
rasa mual, muntah, obstipasi, pusing-pusing, palpitasi, dsb.
Efek-efek ini mungkin disebabkan kekurangan zat endogen
(misalnya endorfin dan zat-zat mirip benzodiazepin) untuk
menempati reseptor-reseptor bagi zat ini di otak.
b.   Ketergantungan psikis ;  misalnya perasaan takut,  dan
gelisah, depresi,  dan tidak bisa tidur (rebound insomnia).
Toleransi dan habituasi (kebiasaan) seringkali memegang
peranan pada terjadinya ketergantungan.
5.     Efek-efek samping lainnya :
a.  Depfresi pernafasan ; terutama pada   dosis tinggi, maka perlu hati-hati pada   pasien asma.
b.  Tekanan darah menurun ; terutama oleh   obat-obat golongan barbiturat.
c.  Obsipasi ; yaitu pada penggunaan lama   terutama obat barbiturat.
d.  hang-over ; yaitu efek sisa pada   keesokan harinya yang dapat berupa   mual, perasaan ringan di kepala dan   butek pikiran. Hal ini disebabkan oleh   hampir semua hipnotika ‘long acting’
KOMBINASI DAN INTERAKSI
1.  Kombinasi dari dua atau lebih obat Hipnotika   dapat   memberikan efek adisi atau potensiasi.
2.  Pada umumnya Alkohol memperkuat efek obat   hipnotika.
3.  Efek antikoagulan diperkuat oleh obat tidur,   kecuali   golongan Benzodiazepin dan Glutetimide relatif tidak   mempengaruhi efek antikoagulan.
4.  Memperlemah efek kortikosteroid, tetrasiklin,   antidepresan trisiklin dan kinidin.
5.  Kloralhidrat tidak dapat diberikan bersama furosemide,   karena akan menyebabkan terjadinya vasodilatasi atau   vasokontriksi   pembuluh darah..
PenggunaanSebagaiSedativa :
Banyak Hipnotika, terutama golongan barbiturat, jika diberikan dalam dosis lebih rendah berfunsi sebagai sedativa (pereda), misalnya  fenobarbital  :
-  Sebagai Sedativa   :  dosis   15 – 30 mg.
-  Sebagai Hipnotika  :  dosis  100 mg.

Penggolonganberdasarkanstrukturkimianya
:
1.  Golongan Barbiturat :  fenobarbital, butobarbital,   siklobarbital, heksobarbital.
2.  Golongan Benzodiazepin : Klordiazepoksid, Diazepam,   nitrazepam, flunitrazepam, Alprazolam dan triazolam.
3.  Golongan Alkohol  : Kloralhidrat, trikofos,   dikolralfenazon.
4.  Golongan Bromida : Kalium Bromida, Natrium   Bromida,   Amonium Bromida.
Penggolonganberdasarkan lama kerjanya :
1  Ultra-shot-acting ; adalah hipnotika yang cepat   timbul efek dan cepat pula hilangnya. Golongan obat   ini sering digunakan sebagai anestetika umum secara   iv.   Contohnya ;tiopental, tialbarbital, heksobarbital.
2.  Shot-acting ; adalah hipnotika yang kecepatan   timbulnya efek sedang ( sekitar 15 menit) dan   bertahan   agak singkat ( 2 – 3 jam). Golongan obat ini sering   digunakan sebagai obat tidur. Contohnya :   siklobarbital dan sekobarbital.
3.  Intermedieate-acting ; adalah hipnotika yang mulai   efeknya setelah 30 menit dan diperkirakan dapat   bertahan selama 5 jam. Contohnya ; butobarbital,   alobarbital, dan heptabarbital.
4.  Long-acting ; adalah hipnotika yang nulai kerjanya   setelah 8 jam dan dapat bertahan sekitar 6-10 jam.    Dapat digunakan sebagai obat tidur lama. Contohnya   :   barbital, fenobarbital, dan metilfenobarbital.
GOLONGAN  BARBITURAT
Barbirat selama beberapa waktu telah digunakan sebagai hipnotik dan sedatif. namun sekarang mulai jarang digunakan karena tergeser oleh golongan benzodiazepin yang relatif lebih aman.
Farmakodinamik :
Efek utama obat golongan barbiturat adalah depresi SSP.   Semua tingkatan depresi dapat dicapai, mulai dari sedasi,   hipnotis, berbagai tingkat ansietas, koma sampai dengan   kematian. Beberapa efek barbital :
- Efekhipnotika barbiturat dapat dicapai dalam waktu 20-         60 menit pada dosis hipnotis, tidurnya menyerupai tidur          fidiologis, tidak disertai mimpi yang mengganggu.
- Efekantiansietas barbiturat berhubungan dengan tingkat          sedasi yang dihasilkan.
- Efekanestetikumum diperlihatkan oleh golongan              tiobarbital dan oksibarbital setelah pemberian iv.
- Efekantikonvulsi yang selektif terutama diberikan oleh         barbiturat yang mengandung substitusi 5-fenil, misalnya :         fenobarbital dan mefobarbital.

HIPNOTIKA DAN SEDATIVA
Hipnotika atau obat tidur berasal dari kata hypnos yang berarti tidur, adalah obat yang diberikan malam hari dalam dosis terapi dapat mempertinggi keinginan tubuh normal untuk tidur, mempermudah atau menyebabkan tidur. Sedangkan sedativa adalah obat yang menimbulkan depresi ringan pada SSP tanpa menyebabkan tidur, dengan efek menenangkan dan mencegah kejang-kejang. 

Setiap mahluk hidup memerlukan waktu tidur yang cukup berkisar antara 6 sampai 8 jam guna mencegah timbulnya pengaruh yang merugikan karena kurang tidur. Pusat tidur terletak di otak yang mengatur fisiologi yang sangat penting bagi kesehatan tubuh. Pada saat tidur aktivitas saraf-saraf parasimpatis dipertinggi yang menyebabkan penyempitan pupil mata (miosis), perlambatan pernafasan dan sirkulasi darah (broncho kontriksi), menurunnya kegiatan jantung dan stimulasi aktivitas saluran cerna dimana peristaltik dan sekresi getah lambung diperkuat. Jadi pada saat tidur proses pengumpulan energi dan pemulihan tenaga dari organisma diperkuat. 



Insomnia dan Pengobatanya 

Insomnia atau tidak bisa tidur dapat disebabkan oleh faktor-fsktor seperti: batuk, rasa nyeri, sesak nafas, gangguan emosi, ketegangan, kecemasan ataupun depresi. Faktor penyebab inilah yang pertama-tama harus dihilangkan dengan obat-obatan yang sesuai seperti: antitussiva, analgetika, obat-obat vasodilator, antidepresiva, sedativa atau transquilizer. Dianjurkan agar penderita mengembangkan kebiasaan tidur yang tetap dan teratur, hindari kopi dan alkohol untuk menahan kantuk. 

Bila penanganan diatas tidak berhasil, barulah digunakan obat-obat hipnotika dengan dosis serendah mungkin. Hipnotika ini efektif dalam mempercepat dan memperpanjang waktu tidur dengan mengurangi frekwensi bangun dan memperbaiki kualitas tidur. Penggunaannya sebaiknya dihentikan segera setelah penderita dapat tidur normal untuk mencegah habituasi dan adiksi. 



Persyaratan obat tidur yang ideal 

Obat tidur yang ideal harus memenuhi beberapa persyaratan, antara lain : 

· Menimbulkan suatu keadaan yang sama dengan dengan tidur normal 

· Jika terjadi kelebihan dosis, pengaruh terhadap fungsi lain dari system saraf pusat maupun organ lainnya kecil 

· Tidak tertimbun dalam tubuh 

· Tidak menyebabkan kerja ikutan yang negatif pada keesokan harinya 

· Tidak kehilangan khasiatnya pada penggunaan jangka panjang 



Efek samping 

Kebanyakan obat tidur memberikan efek samping umum yang mirip dengan morfin, antara lain: 

· Depresi pernafasan, terutama pada dosis tinggi, contohnya flurazepam, kloralhidrat dan paraldehida 

· Tekanan darah menurun, contohnya golongan barbiturat 

· Hang-over, yaitu efek sisa pada keesokan harinya seperti mual, perasaan ringan di kepala dan pikiran kacau, contohnya golongan benzodiazepin dan barbiturat 

· Berakumulasi di jaringan lemak karena umumnya hipnotika bersifat lipofil 

· Lain-lain, seperti toleransi dan ketergantungan dan bahaya bunuh diri, contohnya glutetimid dan derivatnya, metaqualon dan derivatnya serta golongan barbiturat 



Penggolongan 

Secara kimiawi, obat-obat hipnotika digolongkan sebagai berikut : 

· Golongan barbiturat, seperti fenobarbital, butobarbital, siklobarbital, heksobarbital dan lain-lain 

· Golongan benzodiazepin, seperti flurazepam, nitrazepam, flunitrazepam dan triazolam 

· Golongan alkohol dan aldehida, seperti kloralhidrat dan turunannya serta paraldehida 

· Golongan bromida, seperti garam bromida (kalium, natrium dan amonium) dan turunan urea seperti karbromal dan bromisoval 

· Golongan lain, seperti senyawa piperindindion (glutetimida) dan metaqualon 



Obat generik, indikasi, kontra indikasi, dan efek samping 

1. Diazepam 


Indikasi 

Hipnotika dan sedativa, anti konvulsi, relaksasi otot dan anti ansietas (obat epilepsi) 


Kontra indikasi 



Efek samping 



Sediaan 

Diazepam (generik) tablet 2 dan 5 mg 




2. Nitrazepam 


Indikasi 

lihat diazepam 


Kontra indikasi 



Efek samping 

Pada penggunaan lama terjadi kumulasi dengan efek sisa (hang over), gangguan koordinasi dan melantur 


Sediaan 





3. Flunitrazepam 


Indikasi 

Hipnotik, sedativa, anestetik premedikasi operasi 


Kontra indikasi 



Efek samping 

Amnesia (hilang ingatan) 


Sediaan 






4. Kloral Hidrat 


Indikasi 

Hipnotika dan sedativa 


Kontra indikasi 



Efek samping 

Merusak mukosa lambung usus dan ketagihan 


Sediaan 

Diazepam 




5. Luminal 


Indikasi 

Sedativa, epilepsi, tetanus dan keracunan strikhnin 


Kontra indikasi 



Efek samping 

Adiksi dan habituasi 


Sediaan 

Phenobarbital (Generik) tablet 30 dan 50 mg, Injeksi